Life As A Ba(by)rista
Hello, gue mau cerita sedikit tentang pekerjaan gue sebagai barista di sebuah coffee shop dekat tempat gue kuliah. Dari judulnya udah kebaca ya pekerjaan gue itu. Betul! tukang buat kopi. Pekerjaan ini ramai peminat terutama pada orang-orang seumuran gue, karena disamping bisa mejeng make apron trus ya keliatan keren aja tahu dasar atau teknik buat kopi baik dengan mesin atau pun manual hehehe...
Awal pekerjaan ini tuh gue sebenarnya ga nyangka bakal diterima, karena gue emang pengen nyari kegiatan setelah menjalani kehidupan organisasi selama dua tahun (bahkan tiga). Lalu gue iseng-iseng ngobrol sama salah satu temen gue yang juga seorang barista selama satu tahun dan tanya bagaimana dia bisa seimbangin kuliah sama pekerjaan part-time dia. Ternyata coffee shop dia lagi buka lowongan dan besokannya gue coba kirim CV yang alhasil berlanjut sampai tahap wawancara. Pada saat wawancara gue kaku banget karena emang belum pernah masuk dalam dunia kerja yang bener-bener dapet gaji tiap bulannya. Pertanyaan mengenai basic kopi, pernah kerja atau belum, dan lain-lain yang berhubungan menjadi seorang pembuat kopi. Gue rada pesimis karena minimnya pengalaman, namun ternyata gue dapet panggilan. Gue kira temen gue ada di balik layar, tapi gue kurang tahu sih, intinya FINALLY!
Satu bulan gue menjalani training menjadi barista dan cukup berat karena yaitu tadi, minimnya pengalaman. I did a lot of mistakes. Bahkan sampai gue masuk bulan ke-lima pun tetap ceroboh dan sedikit panikan. Mungkin emang pada dasarnya gue adalah orang yang ribet dan pemikir tapi maunya sambil melakukan sesuatu alias multitasking, makanya gue bisa jadi ceroboh. Untungnya gue selalu didukung sama teman-teman barista yang sangat baik dan sabar dalam meladeni keanehan gue. Mereka sabar banget apalagi kalau kadang gue numpahin sesuatu, salah masak, dan sekali dua kali kelupaan pesenan.
Di sini gue berkembang menjadi orang yang baru. Baru dalam artian di sini adalah gue bener-bener keluar dari zona nyaman dan tetap menjadi diri sendiri. Gue dulu sangat-sangat takut untuk bergaul dengan orang yang di luar spektrum gue. Iya, orang-orang yang menurut gue gabakal bisa cocok ngobrol sama mereka karena perbedaan latar belakang, pekerjaan, bahkan hobi atau minat. Lalu masuk dan bekerja di sini membuat gue suka berbicara dan tertarik sama orang-orang yang berbeda dari lingkungan gue. Gue berusaha beradaptasi dengan lingkungan yang sering ngomong bahasa kasar dan substansi dari obrolannya lebih dari kasar, bahkan iblis males ngeladenin omongan kaya gini. Gue paham bagaimana memperlakukan orang dengan baik dan bagaimana orang mau mendengar tentang opini gue. Sesimpel memberikan komando pada temen barista pun di awal-awal gue masih sungkan, terus seiring berjalannya waktu gue mencoba untuk masuk ke dalam obrolan dan lingkar pertemanan mereka yang gue bilang di luar spektrum gue. Gue menemukan diri gue yang adaptif dan versatil, tinggal dalam masyarakat membuka pandangan gue terhadap hal-hal baru.
Hal yang disayangkan adalah gue mungkin berhenti atau pause dari pekerjaan ini karena gue mesti kembali ke Bekasi untuk minta uang jajan hehehe... :p
Masuk dari Februari 2020 dan berakhir pada Agustus 2020, Thank you Senja for the wonderful memories

Komentar
Posting Komentar
Yak silakan komen dah