Skrispy
Heya, long time no write.
Kita udah nyampe bulan april 2021 dan sangat gak disangka waktu berjalan secepat itu. Gue sekarang udah masuk dalam pengerjaan skripsi dan the tension is real! Temen-temen SMA gue udah banyak banget yang lulus baik universitas negeri maupun swasta. Insecure sih ngga karena gue percaya tiap hal ada aja kok jalannya. Hal positif yang gue ambil dalam perjalanan pembuatan skripsi gue yang rada mandek adalah persiapan gue sebelum masuk ke dunia kerja yang notabene lebih gila lagi. Beberapa hari ini gue lagi sering mikir, “lulus gue bisa kerja ga ya?” Bukannya ga yakin dengan ilmu yang gue pelajarin selama kurang lebih 4 tahun, cuman ya… emang beneran ga tau aja sih hahahaha…
gue selalu berniat untuk apply jadi seorang copywriter atau graphic designer. Jalan buat gue sampai ke sana cukup panjang sebenarnya; gue harus menyiapkan portfolio dan cv sebagus-bagusnya. Maka dari itu sembari gue menyelesaikan skripsi, gue juga harus bisa buat sebuah portfolio biar gue bisa masuk ke pekerjaan yang berhubungan dengan minat gue nantinya. Alasan gue lama mengerjakan skripsi juga karena males balik ke Bekasi aja, enak di Semarang :p hahaha
Hal yang gue sadari dalam penulisan skripsi ini adalah betapa sulitnya berkomunikasi lewat kertas ditambah penggunaan bahasa yang cukup formal. Dua hal itu cukup sukses menakut-nakuti teman-teman gue buat menulis, dikarenakan kalau lu gabisa mempertahankan jawaban lu di sidang akhir nanti, you simply fail. Buat gue sendiri, bukannya sombong tapi gue emang senang mengarang, menulis, dan membaca. Gue dari dulu udah dijejalkan dengan bahasa inggris, entah karena minat gue atau gimana, tapi gue senang dengan komunikasi bahasa; baik secara lisan maupun tulisan. Tapi tetap aja karena semakin ke sini pembahasan penelitian yang bahasa-nya kadang gue susah cerna, beda cerita sama buku-buku gue yang dibaca dulu; Diary of Wimpy Kids series dan novel-novel John Green yang bahkan gue belum paham sama jalan ceritanya terutama An Abundance of Katherines.
Semakin jalannya waktu, kadang gue berusaha untuk membaca kembali buku-buku yang gue anggep berat dulu. Laskar Pelangi karya Andrea Hirata dan Supernova Series karya Dee Lestari. Dua buku itu gue anggep sebagai achievement dalam konsumsi buku bacaan gue dan ternyata emang sebagus itu! Setiap gue pulang ke Bekasi, gue selalu membaca ulang Laskar Pelangi dan miris ketika bagian Elvis Has Left The Building dan Zaal Batu. Kedua bab itu membuat gue sadar betapa tidak adilnya dunia buat mereka yang berpendidikan namun tidak memiliki harta yang setara dengan isi otak mereka. Kalau Supernova-nya Dee Lestari tidak dapat dipungkiri lagi dalam penjelasan bahasanya yang sudah tidak masuk ke otak gue yang anaknya sosial humor (humaniora :p) banget. Gue gatau novel itu termasuk fiksi ilmiah atau bukan, tapi gue cukup yakin termasuk fiksi ilmiah dikarenakan adanya kekuatan magis yang dimiliki tiap ‘gugus’.
Kedua buku itu membuat gue senang dengan dunia sastra sampai akhirnya gue masuk deh ke jurusan gue yang sekarang dan udah sampai tingkat akhir. Kalau diputer balik lagi rasanya cepet banget waktu; gue yang dulu di Semarang pengen nangis gara-gara semua orang gaada yang mau ngomong sama gue karena gabisa bahasa Jawa. Gue paham mereka ngomong apa karena nyokap asli Pemalang dan tiap lebaran gue bolak-balik ke sana, cuman gue tetep gabisa ngomong bahasa Jawa aja karena katanya muka gue gak cocok hahaha… Balik lagi dan sekarang gue nulis skripsi yang harusnya bolak-balik kampus, cuman gara-gara Corona ketahan deh kemana-mana.
I just wish things get better and the next time I write in here, I already got my degree! Wish me luck.
nice writing!
BalasHapus